shaun,barca n boca

•Mei 5, 2012 • Tinggalkan sebuah Komentar

shaun,barca n boca

gua banget..!!!

HUKUM POLIGAMI DAN POLIANDRI

•Mei 5, 2012 • Tinggalkan sebuah Komentar

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar belakang

Istilah poligami dan poliandri merupakan istilah yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Istilah ini erat hubungannya dengan perkawinan seseorang dengan lawan jenisnya, dimana jika muncul suatu ketertarikan seseorang dengan lawan jenisnya ketika ia sudah menyandang status perkawinan, maka terjadilah poligami atau poliandri.[1]

Dalam surat An Nisa ayat 3 yang artinya :

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil[265], Maka (kawinilah) seorang saja[266], atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.”

Dari ayat tersebut, dapat terlihat sesungguhnya Allah SWT mengizinkan terjadinya poligami dengan ketentuan-ketentuan yang telah dipaparkan pada ayat tersebut, tetapi lain hal untuk poliandri yang mutlak tidak diperbolehkan dalam kondisi apapun.

  1. Rumusan dan Batasan Masalah
    1. Pengertian Poligami;
    2. Hukum Poligami beserta Dalil-dalilnya;
    3. Dampak Poligami;
    4. Pengertian Poliandri;
    5. Hukum Poliandri beserta Dalil-dalilnya;
    6. Dampak Poliandri;

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pengertian Poligami

Poligami ialah mengawini beberapa lawan jenisnya dalam waktu yang sama. Berpoligami atau menjalankan (melakukan) poligami sama dengan poligini yaitu mengawini beberapa wanita dalam waktu yang sama.

Drs. Sidi Ghazalba mengatakan bahwa Poligami adalah perkawinan antara seorang laki-laki dengan lebih dari satu orang perempuan.Sebenarnya istilah poligami itu mengandung pengertian poligini dan poliandri. Tetapi karena poligami lebih banyak dikenal terutama di Indonesia dan negara-negara yang memakai hukum Islam, maka tanggapan tentang poligini ialah poligami.

  1. Hukum Poligami

Para ulama klasik dari kalangan mufassir (penafsir) maupun fakih (ahli hukum) berpendapat, berdasarkan QS.4:3 pria muslim dapat menikahi empat perempuan. Tafsir ini telah mendominasi nalar seluruh umat Islam. Jadi dalam pengertiannya poligami itu tidak dilarang asalkan tidak lebih dari 4 istri.

Akan tetapi, ulama seperti Muhammad Abduh (1849-1905) tidak sepakat dengan penafsiran itu. Baginya diperbolehkannya poligami karena keadaan memaksa pada awal Islam muncul dan berkembang, ya’ni dengan alasan :

Pertama, saat itu jumlah pria sedikit dibandingkan dengan jumlah wanita akibat gugur dalam peperangan antara suku dan kabilah. Maka sebagai bentuk perlindungan, para pria menikahi wanita lebih dari satu.

Kedua, saat itu Islam masih sedikit sekali pemeluknya. Dengan poligami, wanita yang dinikahi diharapkan masuk Islam dan memengaruhi sanak-keluarganya.

Ketiga, dengan poligami terjalin ikatan pernikahan antarsuku yang mencegah peperangan dan konflik.

Kini, keadaan telah berubah. Poligami, papar Abduh, justru menimbulkan permusuhan, kebencian, dan pertengkaran antara para istri dan anak, bahkan Syeikh Muhammad Abduh yang juga merupakan mantan Syeikh di Al-Azhar ini berfatwa bahwa berpoligami ini hukumnya haram, dengan alasan :

Pertama, syarat poligami adalah berbuat adil. Syarat ini sangat sulit dipenuhi dan hampir mustahil, sebab Allah sudah jelas mengatakan dalam QS.4:129 bahwa lelaki tidak akan mungkin berbuat adil.

Kedua, buruknya perlakuan para suami yang berpoligami terhadap para istrinya, karena mereka tidak dapat melaksanakan kewajiban untuk memberi nafkah lahir dan batin secara baik dan adil.

Ketiga, dampak psikologis anak-anak dari hasil pernikahan poligami. Mereka tumbuh dalam kebencian dan pertengkaran sebab ibu mereka bertengkar baik dengan suami atau dengan istri yang lain.

Syeikh Muhammad Abduh juga menjelaskan hanya Nabi Muhammad saja yang dapat berbuat adil sementara yang lain tidak, dan perbuatan yang satu ini tak dapat dijadikan patokan sebab ini kekhususan dari akhlak Nabi kepada istri-istrinya. ‘Abduh membolehkan poligami hanya kalau istri itu mandul. Fatwa dan tafsiran Abduh tentang poligami membuat hanya dialah satu-satunya ulama di dunia Islam yang secara tegas mengharamkan poligami.

Ulama asal Mesir yang pernah mengecap pendidikan di Paris ini juga melihat poligami adalah praktik masyarakat Arab pra-Islam. tentang perempuan pada abad pertama Hijriah (abad ketujuh Masehi) menjelaskan memang budaya Arab pra-Islam mengenal institusi pernikahan tak beradab (nikâh al-jâhili) di mana lelaki dan perempuan mempraktikkan poliandri dan poligami sebagai berikut :

Pertama, pernikahan sehari, yaitu pernikahan hanya berlangsung sehari saja.

Kedua, pernikahan istibdâ’ yaitu suami menyuruh istri digauli lelaki lain dan suaminya tidak akan menyentuhnya sehingga jelas apakah istrinya hamil oleh lelaki itu atau tidak. Jika hamil oleh lelaki itu, maka jika lelaki itu bila suka boleh menikahinya. Jika tidak, perempuan itu kembali lagi kepada suaminya. Pernikahan ini dilakukan hanya untuk mendapat keturunan.

Ketiga, pernikahan poliandri jenis pertama, yaitu perempuan mempunyai suami lebih dari satu (antara dua hingga sembilan orang). Setelah hamil, istri akan menentukan siapa suami dan bapak anak itu.

Keempat, pernikahan poliandri jenis kedua, yaitu semua lelaki boleh menggauli seorang wanita berapa pun jumlah lelaki itu. Setelah hamil, lelaki yang pernah menggaulinya berkumpul dan si anak ditaruh di sebuah tempat lalu akan berjalan mengarah ke salah seorang di antara mereka, dan itulah bapaknya.

Kelima pernikahan-warisan, artinya anak lelaki mendapat warisan dari bapaknya yaitu menikahi ibu kandungnya sendiri setelah bapaknya meninggal.

Keenam, pernikahan-paceklik, suami menyuruh istrinya untuk menikah lagi dengan orang kaya agar mendapat uang dan makanan. Pernikahan ini dilakukan karena kemiskinan yang membelenggu, setelah kaya perempuan itu pulang ke suaminya.

Ketujuh, pernikahan-tukar guling, yaitu suami-istri mengadakan saling tukar pasangan.

Praktik pernikahan Arab pra-Islam ini ada yang berlangsung hingga masa Nabi, bahkan hingga masa Khulafâ al-Rashidîn Poligami yang termaktub dalam QS.4:3 adalah sisa praktik pernikahan jahiliah sebagaimana disebutkan di atas. Oleh karenanya tepat kiranya Thaha Husayn menyatakan dalam bukunya Fi Syi’r al-Jâhili yang menggemparkan dunia Arab tahun 1920-an hingga dia dipecat sebagai dosen Universitas Kairo, bahwa Al Quran adalah cermin budaya masyarakat Arab jahiliyyah (pra-Islam)

Fakta sosialnya ialah perempuan kala itu dalam kondisi terpinggirkan, kurang menguntungkan dan menyedihkan, dan Al Quran merekamnya melalui teks-teksnya yang masih dapat kita baca saat ini. Dalam hal poligami, Al Quran merekam praktik tersebut sebab poligami

adalah realitas sosial masyarakat saat itu

Oleh karenanya QS 4:3 harus dilihat sebagai ayat yang belum selesai, sebab Al Quran adalah produk sejarah yang tak bisa luput dari konteks sosial, budaya, dan politik masyarakat Arab di Hijaz saat itu. Al Quran sesungguhnya respons Allah terhadap berbagai persoalan umat yang dihadapi Muhammad kala itu. Sebagai respons, tentu Al Quran menyesuaikan dengan keadaan setempat yang saat itu diisi budaya kelelakian yang dominan.

Untuk menurunkan ajaran etik, moral, maupun hukum, Al Quran membutuhkan waktu dan proses. Ambil contoh larangan meminum khamr, Al Quran membutuhkan waktu hingga tiga kali. Dalam masalah poligami pun demikian. Poligami hanya hukum yang berlaku sementara saja dan untuk tujuan tertentu saja, yaitu pada masa Nabi (lihat Fazlur Rahman, Tema Pokok al-Quran, Bandung: Pustaka, 1996, hlm 68-70). Al Quran membutuhkan waktu untuk mencapai tujuan yang sebenarnya yakni monogami.

Menurut Mahmud Syaltut –mantan Syekh Al-Azhar–, hukum poligami adalah mubah. Poligami dibolehkan selama tidak dikhawatirkan terjadinya penganiayaan terhadap para isteri. Jika terdapat kekhawatiran terhadap kemungkinan terjadinya penganiayaan dan untuk melepaskan diri dari kemungkinan dosa yang dikhawatirkan itu, dianjurkan bagi kaum laki untuk mencukupkan beristeri satu orang saja. Dengan demikian menjadi jelas, bahwa kebolehan berpoligami adalah terkait dengan terjaminnya keadilan dan tidak terjadinya penganiayaan yaitu penganiayaan terhadap para isteri.

Zyamahsyari dalam kitabnya tafsir Al Kasy-syaaf mengatakan, bahwa poligami menurut syari’at Islam adalah suatu rukhshah (kelonggaran) ketika darurat. Sama halnya dengan rukhshah bagi musafir dan orang sakit yang dibolehkan buka puasa Ramadhan ketika dalam perjalanan.

Darurat yang dimaksud adalah berkaitan dengan tabiat laki-laki dari segi kecenderungannya untuk bergaul lebih dari seorang isteri. Kecenderungan yang ada pada diri seorang laki-laki itulah seandainya syari’at Islam tidak memberikan kelonggaran berpoligami niscaya akan membawa kepada perzinaan, oleh sebab itu poligami diperbolehkan dalam Islam.

Sedangkan menurut UU RI Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan membolehkan poligami dengan syarat atas izin istri pertama. UU ini diperkuat dengan keluarnya UU RI No 7/1989 tentang Pengadilan Agama, khususnya Pasal 49 yang mengatakan pengadilan agama menangani masalah perkawinan (seperti mengurusi poligami) dan lainnya. Kompilasi Hukum Islam semakin memperjelas kebolehan poligami di Indonesia.

  1. Pada pokoknya pasal 5 UU Perkawinan menetapkan syarat-syarat yang harus dipenuhi bagi suami yang akan melakukan poligami, yaitu: adanya persetujuan dari istri;
  2. adanya kepastian bahwa suami mampu menjamin keperluan-keperluan hidup istri-istri dan anak-anak mereka (material);
  3. adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap istri-istri dan anak-anak mereka (immaterial). Idealnya, jika syarat-syarat diatas dipenuhi, maka suami dapat mengajukan permohonan kepada Pengadilan di daerah tempat tinggalnya. Namun dalam prakteknya, syarat-syarat yang diajukan tersebut tidak sepenuhnya ditaati oleh suami. Sementara tidak ada bentuk kontrol dari pengadilan untuk menjamin syarat itu dijalankan. Bahkan dalam beberapa kasus, meski belum atau tidak ada persetujuan dari istri sebelumnya, poligami bisa dilaksanakan.

v Ayat-ayat yang menjelaskan Poligami

Dasar hukum poligami disebutkan dalam surat an-Nisa’ ayat 3 yang artinya:

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak)perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita(lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki yang demikian itu adalah lebih dekat tidak berbuat aniaya.”

Dalam ayat ini disebutkan bahwa para wali yatim boleh mengawini yatim asuhannya dengan syarat harus adil, yaitu harus memberi mas kawin kepadanya sebagaimana ia mengawini wanita lain. Hal ini berdasarkan keterangan Aisyah RA ketika ditanya oleh Uswah bin Al-Zubair RA mengenai maksud ayat 3 Surat, An-Nisa’ tersebut yaitu: “Jika wali anak wanita tersebut khawatir atau tidak bisa berbuat adil terhadap anak yatim, maka wali tersebut tidak boleh mengawini anak yatim yang berada dalam perwaliannya itu. Tetapi ia wajib kawin dengan wanita lain yang ia senangi, seorang isteri sampai dengan empat, dengan syarat ia mampu berbuat adil terhadap isteri-isterinya, jika tidak, maka ia hanya boleh beristeri seorang dan inipun ia tidak boleh berbuat zhalim terhadap isteri yang seorang itu. Apabila ia masih takut pula akan berbuat zhalim terhadap isterinya yang seorang itu, maka tidak boleh ia kawin dengannya, tetapi ia harus mencukupkan dirinya dengan budak wanitanya.”

Sehubungan dengan ini, Syekh Muhammad Abduh mengatakan: Haram berpoligamibagi seseorang yang merasa khawatir akan berlaku tidak adil.

Jadi maksud ayat 3 Surat An-nisa’ itu adalah bahwa kamu boleh mengawini yatim dalam asuhanmu dengan syarat ail. Bila tidak dapat berlaku demikian, hendaklah kamu memilih wanita yang lain saja. Sebab perempuan selain yatim yang dalam asuhanmu masih banyak jumlahnya. Namun jika kamu tidak dapat berbuat adil, maka kawinilah seorang wanita saja.

Sebelum turun ayat 3 Surat An-Nisa’ diatas, banyak sahabat yang mempunyai isteri lebih dari empat orang, sesudah ada pembatalan paling banyak poligami itu empat, maka Rasulullah memerintahkan kepada sahabat-sahabat yang mempunyai isteri lebih dari empat, untuk menceraikan isteri-isterinya, seperti disebutkan dalam hadits yang artinya:

“Sesungguhnya Nabi Muhammad SAW berkata kepada Ghailan bin Umaiyyah Al Tsaqafy yang waktu masuk Islam mempunyai sepuluh isteri, pilihlah empat diantara mereka dan ceraikanlah yang lainnya.” (HR. Nasa’iy dan Daruquthni)

Dalam hadits lain disebutkan pula tentang pengakuan seorang sahabat bernama Qais bin Harits yang artinya:

Saya masuk Islam bersama-sama dengan delapan isteri saya, lalu saya ceritakan kepada Nabi Muhammad SAW maka beliau bersabda: “Pilihlah empat orang dari mereka.” (HR. Abu Daud)

Berdasarkan pemahaman terhadap ayat dan hadits yang membatasi poligami, maka timbul pertanyaan: “Asas perkawinan dalam Islam termasuk monogami atau poligamikah?”

Dalam masalah ini ada dua pendapat:

  1. Bahwa asas perkawinan dalam Islam itu Monogami.
  2. Bahwa asas perkawinan dalam Islam adalah Poligami

Golongan pertama beralasan bahwa Allah SWT memperbolehkah poligami itu dengan syarat harus adil. Mengenai keadilan ini harus dikaitkan dengan firman Allah SWT dalam Surat An Nisaa’ ayat 129 yang artinya:

“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil diantara isteri-isterimu, walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian. Karena itu janganlah kamu terlalu cenderung kepada yang kamu cintai, sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri dari kecurangan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.”

Karena ayat tersebut menjelaskan bahwa tidak akan ada seorangpun yang dapat berbuat adil, suatu petunjuk bahwa asas pernikahan dalam Islam adalah monogami.

Bagi yang berpendapat bahwa asas pernikahan itu adalah poligami, beralasan bahwa antara ayat 3 dan ayat 129 Surat An-Nisa’ tidak terdapat pertentangan. Hanya saja keadilan yang dimaksud pada kedua ayat tersebut adalah keadilan lahiriyah yang dapat dikerjakan oleh manusia bukan adil dalam hal cinta dan kasih sayang.

Adil yang tidak dapat dilaksanakan oleh seseorang seperti tercantum dalam ayat 129 Surat An-Nisa’ itu adalah adil dalam cinta dan jima’. Ini memang logis. Umpama dari Ahad giliran di rumah isteri pertama dengan memberikan nafkah batin, hari Senin giliran isteri kedua memberikan nafkah yang sama, demikian selanjutnya pada isteri ketiga dan keempat. Adil yang semacam ini jarang terjadi, sebab gairah untuk memberikan nafkah batin ini tidak selalu ada. Asalkan perbuatan itu tidak disengaja, maka itu tidak dosa.

Golongan yang berpendapat bahwa asas melaksanakan poligami hanya dalam keadaan memaksa atau darurat, Muhammad Rasyid Ridha mencantumkan beberapa hal yang boleh dijadikan alasan berpoligami, antara lain:

  1. Isteri mandul
  2. steri yang mempunyai penyakit yang dapat menghalangi suaminya untuk memberikan nafkah batin
  3. Bila suami mempunyai kemauan seks luar biasa (over dosis), sehingga isterinya haid beberapa hari saja mengkhawatirkan dirinya berbuat serong.
  4. Bila suatu daerah yang jumlah perempuannya lebih banyak daripada laki-laki. Sehingga apabila tidak poligami mengakibatkan banyak wanita yang berbuat serong.

Dari dua pendapat diatas, baik asas perkawinan itu monogami ataupun poligami, yang jelas Islam membolehkan adanya poligami, dengan syarat adil.

Syarat adil ini merupakan suatu penghormatan kepada wanita bila tidakdipenuhi akan mendatangkan dosa. Kalau suami tidak berlaku adil kepada isterinya, berarti ia tidak Mu’asyarah bi Al-Ma’ruf kepada isterinya, sebagaimana diperintahkan Allah dalam Al-Quran Surat An-Nisa’ ayat 19 yang artinya:

“Dan bergaullah dengan mereka secara patut (baik).” (11)

Dalam kedudukan suami sebagai pemimpin/kepala rumah tangga, ia wajib Mu’asyarah bi Al-Ma’ruf kepada isterinya. Ia tidak boleh berbuat semena-mena terhadap isterinya, karena dalam pergaulan hidup berumah tangga, isteri boleh menuntut pembatalan akad nikah dengan jalan khulu’, bila suami tidak mau atau tidak mampu memberi nafkah, atau tidak berlaku adil, atau suami berbuat serong, penjudi, pemabuk, dan sebagainya, dan isteri tidak rela (lihat Surat Al-Baqarah ayat 229). Akibat khulu’ suami tidak bisa ruju’ tanpa persetujuan bekas isteri. Itulah konsekwensi bagi suami sebagai kepala rumah tangga yang tidak dapat melaksanakan tanggung jawabnya, yang berarti ia tidak bergaul secara patut/baik terhadap isterinya.

  1. Dampak poligami

Dampak yang umum terjadi terhadap istri yang suaminya berpoligami :

  1. Timbul perasaan inferior, menyalahkan diri sendiri, istri merasa tindakan suaminya berpoligami adalah akibat dari ketidakmampuan dirinya memenuhi kebutuhan biologis suaminya.
  2. Ketergantungan secara ekonomi kepada suami. Ada beberapa suami memang dapat berlaku adil terhadap istri-istrinya. Tetapi seringkali pula dalam prakteknya, suami lebih mementingkan istri muda dan menelantarkan istri dan anak-anaknya terdahulu. Akibatnya istri yang tidak memiliki pekerjaan akan sangat kesulitan menutupi kebutuhan sehari-hari.
  3. Hal lain yang terjadi akibat adanya poligami adalah sering terjadinya kekerasan terhadap perempuan, baik kekerasan fisik, ekonomi, seksual maupun psikologis.
  4. Selain itu, dengan adanya poligami, dalam masyarakat sering terjadi nikah di bawah tangan, yaitu perkawinan yang tidak dicatatkan pada kantor pencatatan nikah (Kantor Catatan Sipil atau Kantor Urusan Agama). Perkawinan yang tidak dicatatkan dianggap tidak sah oleh negara, walaupun perkawinan tersebut sah menurut agama. Bila ini terjadi, maka yang dirugikan adalah pihak perempuannya karena perkawinan tersebut dianggap tidak pernah terjadi oleh negara. Ini berarti bahwa segala konsekwensinya juga dianggap tidak ada, seperti hak waris dan sebagainya.
  5. Yang paling mengerikan, kebiasaan berganti-ganti pasangan menyebabkan suami/istri menjadi rentan terhadap penyakit menular seksual (PMS) dan bahkan rentan terjangkit virus HIV/AIDS.

Efek psikologis bagi anak-anak hasil pernikahan poligami sangat buruk: merasa tersisih, tak diperhatikan, kurang kasih sayang, dan dididik dalam suasana kebencian karena konflik itu. Suami menjadi suka berbohong dan menipu karena sifat manusia yang tidak mungkin berbuat adil.

  1. Pengertian Poliandri

Poliandri adalah Satu orang perempuan memiliki banyak suami. Disebut poliandri fraternal jika si suami beradik kakak dan disebut non-fraternal bila suami-suami tidak ada hubungan kakak adik kandung.

  1. Hukum Poliandri

Hukum poliandri adalah haram berdasarkan Al-Qur`an dan As-Sunnah.

v Ayat-ayat yang menjelaskan Poliandri

Dalil Al-Qur`an, adalah firman Allah SWT :

“Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki.” (QS An-Nisaa` [4] : 24)

Ayat di atas yang berbunyi “wal muhshanaat min al-nisaa` illa maa malakat aymaanukum” menunjukkan bahwa salah satu kategori wanita yang haram dinikahi oleh laki-laki, adalah wanita yang sudah bersuami, yang dalam ayat di atas disebut al-muhshanaat.

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani berkata dalam an-Nizham al-Ijtima’i fi al-Islam (Beirut : Darul Ummah, 2003) hal. 119 :

Diharamkan menikahi wanita-wanita yang bersuami. Allah menamakan mereka dengan al-muhshanaat karena mereka menjaga [ahshana] farji-farji (kemaluan) mereka dengan menikah.”

Pendapat tersebut sejalan dengan pendapat Imam Syafi’i yang menyatakan bahwa kata muhshanaat yang dimaksud dalam ayat tersebut bukanlah bermakna wanita merdeka (al-haraa`ir), tetapi wanita yang bersuami (dzawaatul azwaaj) (Al-Umm, Juz V/134).

Imam Syafi’i menafsirkan ayat di atas lebih jauh dengan mengatakan :

Wanita-wanita yang bersuami baik wanita merdeka atau budak  diharamkan atas selain suami-suami mereka, hingga suami-suami mereka berpisah dengan mereka karena kematian, cerai, atau fasakh nikah, kecuali as-sabaayaa (yaitu budak-budak perempuan yang dimiliki karena perang, yang suaminya tidak ikut tertawan bersamanya (Imam Syafi’i, Ahkamul Qur`an, Beirut : Darul Kutub al-‘Ilmiyah, 1985, Juz I/184).

Jelaslah bahwa wanita yang bersuami, haram dinikahi oleh laki-laki lain. Dengan kata lain, ayat di atas merupakan dalil al-Qur`an atas haramnya poliandri.

Adapun dalil As-Sunnah, bahwa Nabi SAW telah bersabda :

Siapa saja wanita yang dinikahkan oleh dua orang wali, maka [pernikahan yang sah] wanita itu adalah bagi [wali] yang pertama dari keduanya.” (ayyumaa `mra`atin zawwajahaa waliyaani fa-hiya lil al-awwali minhumaa) (HR Ahmad, dan dinilai hasan oleh Tirmidzi) (Imam Asy-Syaukani, Nailul Authar, hadits no. 2185; Imam Ash-Shan’ani, Subulus Salam, Juz III/123).

Hadits di atas secara manthuq (tersurat) menunjukkan bahwa jika dua orang wali menikahkan seorang wanita dengan dua orang laki-laki secara berurutan, maka yang dianggap sah adalah akad nikah yang dilakukan oleh wali yang pertama (Imam Ash-Shan’ani, Subulus Salam, Juz III/123).

Berdasarkan dalalatul iqtidha`1, hadits tersebut juga menunjukkan bahwa tidaklah sah pernikahan seorang wanita kecuali dengan satu orang suami saja. Makna (dalalah) ini –yakni tidak sahnya pernikahan seorang wanita kecuali dengan satu suami saja – merupakan makna yang dituntut (iqtidha`) dari manthuq hadits, agar makna manthuq itu benar secara syara’. Maka kami katakan bahwa dalalatul iqtidha` hadits di atas menunjukkan haramnya poliandri.

Pelarangan, pengharaman poliandri selain dari ketentuan syar’iyah, juga diatur dalam Pasal 40 ayat (a) Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang menyebutkan bahwa “wanita yang masih dalam ikatan perkawinan haram hukumnya melakukanperkawinan dengan laki-laki lain.”[2]

Dengan demikian, jelaslah bahwa poliandri haram hukumnya atas wanita muslimah berdasarkan dalil-dalil al-Qur`an dan As-Sunnah yang telah kami sebutkan di atas. Wallahu a’lam.

  1. Dampak Poliandri

Poliandri berdampak :

  • kurangnya keharmonisan dalam hubungan rumah tangga
  • dampak psikologis bagi anak yang memiliki banyak bapak
  • mendapat celaan dari masyarakat sekitar

BAB III

PENUTUP

Poligami tidak pernah dilarang, namun dibatasi praktiknya.

Manusia memiliki kebutuhan dasar untuk mendapatkan keturunan melalui proses reproduksi, reproduksi ini menimbulkan libido dan nafsu birahi. Biasanya nafsu ini dikuatkan oleh factor genetic, makanan dan lingkungan. Sebagai makhluk social dan makhluk berbudaya, manusia harus memiliki pembatasan libido.

Poligami boleh dilakukan, sedangkan poliandri tidak boleh.[3]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

KHI,  Bandung : Fokusmedia, 2007

Anonym, Poliandri dan dekadensi Moral Perempuan, http://wahidinstitute.com diakses tgl 12/04/2012

http://makuliye.wordpress.com/2010/03/25/makalah-poligami-vs-poliandri/


[1] Anonym, Poliandri dan dekadensi Moral Perempuan, http://wahidinstitute.com diakses tgl 12/04/2012

[2]  KHI (Bandung : Fokusmedia,2007), hlm. 16

Seorang Mahasiswa Yang mengalahkan keterbatasan

•Mei 25, 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar

Seorang Mahasiswa Yang Mengalahkan Keterbatasan

Seorang Mahasiswa Yang Mengalahkan Keterbatasan

Bismilahirrahmanirrahim…

Memulai hari dengan membaca basmalah membuat diri ini menjadi lebih bersemangat, dan merasa terlindungi dalam menjalankan aktifitas sehari-sehari. Kuliah adalah aktifitas saya sekarang ini, dengan segala kelengkapan yang saya miliki berusaha mewujudkan suatu keinginan yang ada di raga ini, ekspektasi/harapan dari orang tua menjadi pemicu utama semangat saya dalam menimba ilmu. Berawal dari sebuah keinginan membahagiakan keluarga atau orang-orang yang ada di sekitar saya, dan ingin menemukan jati diri membuat saya terus belajar dan belajar memaknai arti dari kehidupan ini. Living thought of mind with liver/ Hidup berpikir dengan pikiran dan hati  adalah motto saya dalam menjalani hidup dalam kehidupan ini, dan mempunyai konsep kebersamaan dalam menjalani hidup, belajar dari yang terpelajar, mencoba mengsinkronkan pola pikir yang monoton dengan keinginan akan sesuatu yang sifatnya merubah. Transformasi diri merupakan hal yang dibutuhkan oleh diri ini untuk mencapai sesuatu yang sudah menjadi keinginan, atau yang dicita-citakan.

Saya yang terlahir 23 tahun yang lalu memiliki keluarga yang luar biasa, bahkan menurutku merekalah orang-orang yang pailng hebat dibandingkan seorang ilmuwan sekaliber Albert Einstein. Agak berlebihan mungkin tapi itulah pandangan yang terlahir dari hati yang tidak bisa dipungkiri. Ucapan syukurku kepada Allah SWT yang telah menganugerahkannya. Hidup bersama mereka merupakan hal yang lebih baik dibandingkan hidup  dengan bergelimangan harta kekayaan.

Menjadi seorang mahasiswa ideal adalah ambisiku sekarang ini, dengan segala kelengkapan yang menjadi penunjang aktifitas kuliahku adalah salah satu alasanku untuk mewujudkan ambisiku tersebut. Seiring berjalannya waktu hingga mencapai semester II ini harapan itu belum juga terealisasikan atau belum menunjukkan cahaya-cahanya. Apakah ada yang salah dengan diri ini…? Sebuah pertanyaan yang menggelitik dan hanya bisa di jawab oleh diri ini. Prinsip hidup yang saya miliki mungkin menjadi salah satu pemicu kegagalan untuk mencapai keinginan saya tersebut, mind set  adalah salah satu yang harus saya lakukan dengan kembali memperhatikan keadaan di sekitaran saya. Exactly..! ada sesuatu yang memang telah saya lewatkan atau mungkin telah saya remehkan, konsep saya yang pertama ternyata belum berjalan dengan baik. Sehingga harapan-harapan itu jauh dari wujudnya.

Memasuki semester III membuat hati saya tergerak dengan kata lain ada impulsive yang mendorong saya untuk segera mengejar harapan itu. Benar sekali, ternyata ada sesuatu yang selama ini saya lewatkan atau tidak saya perhatikan. Seorang sahabat yang selama ini saya remehkan ternyata bisa menjadi motivator dalam mengejar harapan itu tadi. Bahkan saya bisa mengatakan bahwa dialah sumber inspirasi. Mengapa demikian, ya..karena criteria-kriteria seorang mahasiswa ideal tertanam pada dirinya. Satu kata dalam bentuk polyword yaitu luar biasa merupakan sesuatu yang pantas disematkan pada dirinya. Dan siapakah seorang sahabat yang saya maksudkan tadi….?

Haryono Humalidi adalah nama lengkapnya dan biasa di sapa Yono, seorang anak bangsa ini yang terlahir 24 tahun lalu di sebuah desa kecil yang terletak disebuah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, sebuah Kab. Hasil pemekaran dari Kab. Bolaang Mongondow. Memijakkan kedua kakinya di sebuah kota sedang MANADO yaitu ibu kota dari Provinsi SULUT, sekitar 4 tahun yang lalu,  juga memiliki harapan dan keinginan yang sama seperti saya. dia lah yang telah memberikan semangat baru bagiku untuk terus belajar mencari sesuatu yang tersembunyi di dalam hidup ini, dia telah berhasil menunujukkan  identitas seorang mahasiswa, seorang mahasiswa yang benar-benar mahasiswa (the real of lecture)..!!!!

semoga tulisan ringkas yang bersumber dari realita kehidupan saya ini bisa menggerakkan hati anda dalam  menggapai cita-cita…..!!!berencanalah dan bergerak menuju masa depan yang cerah dan pasti…..

motivasi

•Mei 14, 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

BAB I

PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang

Dalam ilmu manajemen untuk melakukan pengarahan dengan baik, maka perlu memperhatikan peraturan perundangan-perundangan yang berlaku, transparan, demokratis, efektif, efisien, dan dapat dipertanggungjawabkan. Pengarahan terdiri atas 1) motivasi; 2) kepemimpinan; 3) pengambilan keputusan; 4) komunikasi; 5) koordinasi, negosiasi, dan konflik; 6)  perubahan organisasi. Namun pada makalah kali ini kita tidak akan membahas semua sub dari pengarahan, tetapi akan lebih difokuskan pada pembahasan mengenai motivasi.

Motivasi merupakan salah satu alat atasan agar bawahan mau bekerja keras dan bekerja cerdas sesuai dengan yang diharapkan. Pengetahuan tentang pola motivasi membantu para manajer memahami sikap kerja pegawai masing-masing. Manajer dapat memotivasi pegawainya dengan cara berbeda-beda sesuai dengan pola masing-masing yang paling menonjol. Bawahan perlu di motivasi karena ada bawahan yang baru mau bekerja setelah dimotivasi atasannya. Motivasi yang timbul dari luar disebut motivasi ekstrinsik. Dipihak lain, ada pula bawahan yang bekerja atas motivasi dari dirinya sendiri yaitu yang disebut motivasi instrinsik. Motivasi intirinsik biasanya lebih bertahan lama dan efektif dibandingkan motivasi ekstrinsik.

Jika seseorang berhasil mencapai motivasinya, maka yang bersangkutan cenderung untuk terus termotivasi. Sebaliknya, jika seseorang sering gagal mewujudkan motivasinya, maka yang bersangkutan mungkin tetap ulet terus berusaha dan berdoa sampai motivasinya tercapai atau justru menjadi putus asa atau (frustrasi).[1]

 

B.   Rumusan dan Batasan masalah

a.     Pengertian dan bentuk-bentuk motivasi

b.     Model motivasi

c.      Teori-teori motivasi

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.   Pengertian dan bentuk-bentuk motivasi

a.       pengertian motivasi

Motivasi ialah dorongan atau kecenderungan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar melakukan tindakan dengan tujuan tertentu; usaha-uasaha yang menyebabkan seseorang atau kelompok orang tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendaki. [2] Perkataan MOTIVASI adalah berasal daripada perkataan Bahasa Inggeris – “MOTIVATION”. Perkataan asalnya ialah “MOTIVE” yang juga telah dipinjam oleh Bahasa Melayu / Bahasa Malaysia kepada MOTIF, yakni bermaksud TUJUAN. Di dalam surat khabar, kerap pemberita menulis ayat “motif pembunuhan”. Perkataan motif disini boleh kita fahami sebagai sebab atau tujuan yang mendorong sesuatu pembunuhan itu dilakukan. Jadi, ringkasnya, oleh kerana perkataan motivasi adalah bermaksud sebab, tujuan atau pendorong, maka tujuan seseorang itulah sebenarnya yang menjadi penggerak utama baginya berusaha keras mencapai atau mendapat apa juga yang diinginkannya sama ada secara negatif atau positif.[3]

b.      Bentuk-bentuk motivasi

1.       Teguran atau Kritik

Menegur berarti mengingatkan bila seseorang tidak mencapai standar agar dia dapat mencoba kembali mencapai standar tersebut. Di dalam menegur, seorang motivator harus dapat memperlihatkan kesalahan apa yang terjadi, memiliki cukup fakta dan disertai perasaan sang motivator, apakah marah, tersinggung ataupun frustasi. Mengkritik adalah sebuah tindakan yang sulit kalau kita melihat prinsip-prinsip berkomunikasi yang diungkapkan oleh Dale Carnegie, yaitu jangan mengkritik, mencerca atau mengeluh sebaliknya berikan penghargaan yang jujur dan tulus. Jadi sebisa mungkin jangan menyampaikan kritik, tetapi berikan saran-saran berharga yang membangun.

2.      Amarah

Amarah adalah emosi yang digunakan oleh pembicara-pembicara untuk memukau pendengarnya. Amarah seorang jenderal digunakan untuk membangkitkan kemarahan seluruh tentaranya untuk membangkitkan semangat juang seluruh tentaranya. Amarah seorang manajer untuk menegaskan kembali standar keunggulan mutu perusahaan.

3.       Tantangan

Adalah target yang tidak mustahil untuk dilakukan dengan melihat keterbatasan-keterbatasan yang ada. Tantangan yang realistis mampu membangkitkan antuasisme dari staff / tim untuk memberikan performa terbaik yang semakin baik lagi.

4.      Kecacatan tubuh

Di dalam buku-buku banyak yang mengisahkan orang-orang cacat yang berhasil berjaya di bidangnya. Sebagai contoh Andrea Bocelli, penyanyi suara tenor yang sangat terkenal meskipun tidak dapat melihat. Setelah memperoleh keberhasilan, mereka tidak tinggal diam tetapi selalu memotivasi orang lain apalagi yang mengalami cacat tubuh untuk terus berusaha mencapai keberhasilan dan tidak selalu melihat kekurangan yang mereka miliki.

5.       Kepercayaan dan tanggung jawab

Buatlah orang tersebut merasa penting dan dibutuhkan oleh orang lain serta diperhatikan oleh orang lain termasuk Anda. Secara umum, beberapa orang akan terpengaruh untuk berusaha jika diberikan tanggung jawab karena tanggung jawab adalah wujud otoritas untuk membuat perubahan atau mengambil keputusan. Lebih jauh lagi, memberikan tanggung jawab berarti memberikan kesempatan kepada seseorang untuk membuktikan kemampuannya.

6.      Materi

Memberikan materi adalah untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia (Teori Maslow). Materi dapat berupa gaji yang pantas, fasilitas, kendaraan, rumah, dan lain sebagainya. Motivasi di berbagai bidang n Olahraga Motivasi berupa latihan mental, khususnya kepada pemain-pemain muda untuk membentuk kepercayaan diri, keyakinan dan target untuk menjadi juara. Motivasi merupakan faktor nonteknis yang menentukan kondisi mental atlet di samping faktor nonteknis. Di dalam sebuah pertandingan, kehadiran pendukung memberikan keuntungan besar kepada atlet yang didukungnya.

7.      Perusahaan

Secanggih apa pun pengetahuan dari pemimpin puncaknya, dalam titik tertentu keberhasilan ditentukan oleh berapa besar motivasi kerja dari seluruh karyawan dari perusahaan tersebut. Motivasi kerja tersebut ditunjukkan dengan penampilan yang prima untuk perusahaan.

8.      Ketentaraan

Dalam setiap pertempuran, kehadiran seorang pemimpin perang yang disegani memberikan motivasi tempur yang tinggi kepada setiap tentara yang dipimpinnya.[4]



B.   Model Motivasi

 

1.      Model tradisional dari motivasi berhubungan dengan Frederick Taylor dan aliran manajamen ilmiah. Aliran ini berpendapat bahwa salah satu aspek penting pekerjaan manajer adalah memastikan bahwa para pekerja melakukan tugasnya yang paling membosankan dan berulang-ulang dengan cara yang efisien. Manajer menentukan bagaimana pekerjaan itu dilakukan dan menggunakan suatu system perangsang upah untuk memotivasi para karyawan-makin banyak yang mereka hasilkan, makin besar upah yang mereka peroleh. Pandangan ini berasumsi bahwa karyawan pada dasarnya malas dan bahwa manajer memahami pekerjaan karyawan lebih baik dari pada karyawan itu sendiri. Karyawan hanya dapat dimotivasi dengan imbalan uang dan diluar pekerjaannya, sedikit sekali yang dapat disumbangkan karyawan untuk organisasinya. Dalam banyak situasi pendekatan ini efektif. Karena efesiensi meningkat, lebih sedikit karyawan yang dibutuhkan untuk menangani suatu tugas tertentu. Sejalan dengan perkembangan waktu. Manajer mengurangi besarnya rangsangan upah. Pemutusan hubungan kerja menjadi lazim, dan karyawan lebih mencari keamanan kerja daripada hanya peningkatan upah yang kecil dan sementara.

  

2.      Model hubungan antar manusia akhirnya menjadi nyata bahwa pendekatan tradisional terhadap motivasi sudah tidak memadai lagi. Elton Mayo dan peneliti hubungan antar manusia hanya menemukan bahwa kontak sosial yang dialami karyawan waktu bekerja juga penting dan bahwa kebosanan dan berulang-ulangnya tugas itu sendiri merupakan faktor yang mengurangi motivasi. Mayo dan peneliti lainnya juga berpendapat bahwa manajer dapat memotivasi karyawan dengan mengakui kebutuhan sosialnya dan membuat mereka merasa berguna dan penting. Akibatnya karyawan diberi suatu kebebasan untuk mengambil keputusannya sendiri mengenai pekerjaannya. Perhatian lebih besar diberikan kepada kelompok kerja informal organisasi. Lebih banyak infoemasi yang diberikan kepada karyawan mengenai maksud manajer dan tentang operasi organisasi. Dalam model tradisional, karyawan diharapkan menerima wewenang manajemen agar kemungkinan pemberian upah yang tinggi, berdasarkan system yang efisien yang didesain manajemen dan dilaksanakan oleh karyawan. Dalam model hubungan antar manusia. Karyawan diharapkan menerima wewenang manajemen karena supervisor memperlakukan mereka dengan penuh tenggang rasa dan penuh perhatian akan kebutuhan mereka. Akan tetapi, maksud manajer tetap sama ingin agar karyawan menerima situasi kerja seperti yang ditetapkan oleh manajer.

  

3.      Model sumber daya manusia para ahli teori yang kemudian seperti McGregor dan Maslow, dan para peneliti seperti Argyris dan Likert, mengkeritik model hubungan antar manusia sebagai suatu pendekatan yang lebih canggih untuk memanipulasi karyawan. Para ahli teori ini berpendapat bahwa karyawan dimotivasi oleh banyak faktor bukan hanya uang, atau keinginan akan kepuasan, tetapi juga kebutuhan akan prestasi dan kerja yang bermakna. Menurut mereka, kebanyakan orang telah dimotivasi untuk melakukan suatu pekerjaan yang baik dan mereka tidak secara otomatis melihat pekerjaan sebagai sesuatu yang tidak diinginkan. Mereka mengatakan bahwa karyawan ada kemungkinan memperoleh kepuasan dari prestasi yang baik(bukannya melaksanakn dengan baik, karena mereka dipuaskan, seperti dalam model hubungan antar manusia). Dengan demikian, karyawan dapat diberi tanggung jawab yang jauh lebih besar untuk mengambil keputusan dan melaksanakan tugasnya. Maka, dari sudut pandangan model sumber daya manusia, manajer tidak bole membujuk karyawan memenuhi saran manajerial dengan menyuap mereka berupa upah yang tinggi, sperti dalam model tradisional, atau memanipulasi mereka dengan perlakuan yang penuh tenggang rasa dan penuh perhatian, seperti dalam model hubungan antar manusia. Sebaliknya, manajer harus membagi tanggung jawab untuk mencapai sasaran organisasi dan individu, dengan setiap orang yang memberikan sumbangan atas dasar minat dan kemampuannya.[5]

Sebuah penelitian berkesimpulan bahwa para menajer kotemporer cenderung untuk meyakini dua model motivasi secara serempak. Manghadapi bawahannya. Manajer cendrung beroperasi sesuai dengan model hubungan antar manusia: mereka berusaha mengurangi penolakan bawahan dan meningkatkan semangat kerja dan kepuasa. Akan tetapi, dalam diri mereka sendiri, para manajer lebih menyukai model sumber daya: mereka marasa bakatnya sendiri belum dimanfaatkan sepenuhnya, dan mereka berupaya mendapat tanggung jawab yang lebih besar dari atasannya.

 

C.    Teori-teori Motivasi

Teori motivasi dapat digolongkan menjadi 3 bagian yaitu:

 

a.      Teori petunjuk (prescriptive theories)yaitu bagaimana cara memotivasi para karyawan yang didasarkan atas pengalaman coba-coba.

 

b.      Teori isi (content theories) menanyakan “apa penyebab prilaku terjadi dan terhenti?” Jawabnya terpusat pada 1) kebutuhan, keinginan, atau dorongan yang memacu untuk melakukan kegiatan, 2) hubungan karyawan dengan faktor-faktor eksternal dan internal yang menyebabkan mereka melakukan kegiatan. Macam-macam teori ini yaitu Teori Maslow, Murray, Alderfer, McGregor, Herzberg, dan McClelland.

1.      Hierarki kebutuhan Maslow. Menurut teori kebutuhan Maslow terdapat lima tingkatan kebutuhan, dari kebutuhan manusia yang paling rendah sampai pada kebutuhan manusia yang paling tinggi. Urutan motivasi yang paling rendah sampai ke motivasi yang paling tinggi. 1). Kebutuhan fisiologikal (fisiological needs) kebutuhan fisiological merupakan kebutuhan yang paling rendah dari manusia. Contoh kebutuhan ini adalah kebutuhan akan sandang, pangan, papan, istirahat, rekreasi, tidur, dan hubungan seks. Untuk memenuhi kebutuuhan ini manusia biasanya berusaha keras ubutk mencari rezeki. 2). Kebutuhan keselamatan (safety needs, security needs) setelah kebutuhan fisiologikal terpenuhi, maka muncul kebutuhan baru yang diinginkan manusia yaitu kebutuhan akan keselamatan atau rasa aman. Contohnya ialah menabung, mandapatkan tunjangan pension, memiliki asuransi, memasang pagar, teralis pintu, dan jendela. 3). Kebutuhan berkelompok (social needs, love needs, belonging neesds, affection needs) setelah kebutuhan keselamatan atau rasa aman terpenuhi maka muncul pula kebutuhan baru yang diinginkan manusia, yaitu kebutuhan hidup berkelompok, bergaul, bermasyarakat, ingin mencintai dan dicintai, serta ingin memiliki dan dimiliki. Contohnya yang lain ialah membina keluarga, bersahabat, bergaul, bercinta, menikah, dan mempunyai anak, bekerja sama dan menjadi anggota organisasi. Untuk memenuhi kebutuhan ini, manusia biasanya berdoa dan berusaha untuk memenuhinya. 4). Kebutuhan penghormatan (estern needs, egoistic needs) setelah kebutuhan di atas terpenuhi, maka muncul kebutuhan baru yang diinginkan manusia, yaitu kebutuhan akan kehormatan atau ingin berprestasi. Contoh kebutuhan ini antara lain ingin mendapat ucapan terimah kasih, ucapan selamat jika berjumpa, menunjukkan rasa hormat, mendapatkan tanda penghargaan (hadiah), menjadi legislative, menjadi pejabat, (mendapat kekuasaan), menjadi pahlawan, mendapat ijzah sekolah, status symbol, dan promosi. Untuk memenuhi kebutuhan ini biasanya manusai berdoa minta ditinggikan derajatnya lewat sholat tahajud dan berusaha untuk memenuhi aturan seperti jika ingin kita dihormati maka kita harus menghormati orang lain. 5). Kebutuhan aktualisasi diri (self-actualitation needs, self-realization needs, self-fulfillment needs, self-expression needs) setelah kebtuhan kehormatan terpenuhi, meka muncul kebutuhan baru yang diinginkan manusia, yaitu kebutuhan akan aktualisasi diri atau realisasi diri atau pemenuhan kepuasan atau ingin berprestise. Contoh kebutuhan ini ialah memilki sesuatu bukan hanya fungsi tapi juga gengsi, mengoptimalakan potensi  dirinya secara kreatif dan inovatif, ingin mencapai taraf hidup yang serba sempurna atau derajat yang setinggi-tingginya, melakukan pekerjaan yang kreatif (menulis buku atau artikel),ingin pekerjaan yang menantang.[6]

2.      Teory murray. Teori kebutuhan menurut Murray (1938) berasumsi bahwa manusia mempunyai sejumlah kebutuhan yang memotivasinya untuk berbuat. Kebutuhan-kebutuhan manusia itu menurut Murray antara lain (1) pencapaian hasil kerja, (2) afiliasi, (3) agresi, (4) otonomi, (5) pamer, (6) kata hati, (7) memelihra hubungan baik, (8) memerintah (berkuasa), (9) kekuatan, dan (10) pengertian. Kebuthan yang disampaikan Murray tersebut bersifat kategorisasi saja. Sebenarnya kebutuhan manusia itu sangat banyak, kompleks, dan tidak terbatas.

3.      Teori Aldefer. menurut Teori Aldefer (1972) disebutkan bahwa manusia itu memliki kebutuhan yang disingkat ERG (existence, relatedness, growth). Manusia menurut Aldefer pada hakikatnya ingin dihargai dan dikaui keberadaannya (eksistensi), ingin diundang dan dilibatkan. Disamping itu, manusia sebagai mahluk sosial ingin berhubungan atau bergaul dengan manusia lainnya (relasi). Manusai juga ingin selalu meningkat taraf hidupnya menuju kesempurnaan (ingin selalu berkembang).

4.      Teori dua faktor dari Herzberg. Teori dua fktor yang dikembangkan oleh Frederick Herzberg bersama-sama dengan Bernard Mausner dan Barbara Snyderman. Mereka melakukan penelitian dengan bertanya pada subjek penelitian tentang waktu ia merasa paling puas terhadap pekerjaannya. Kemusian mencari sebab-sebab mereka merasa puas. Faktor kesehatan (ekstrinsik) merupakan faktor lingkungan yang menyebabkan ketidakpuasan. Penelitian menyimpulkan terdapat dua faktor, yang faktor pemuas dan faktor kesehatan .

5.      Teori X Dan Y McGregor.  Teori X Dan Y dikembangkan oleh McGregor atas dasar karakteristik manusia merupakan anggota organisasi salam hubungannya dengan penampilan organisasi secara keseluruhan dan penampilan individu dalam melaksanakan tugas-tugasnya.

6.      Teori McClelland. McClelland mengetengahkan teori motivasi yang berhubungan erat dengan teori belajar. McClelland (1962) berpendapat bahwa banyak kebutuhan yang diperoleh dari kebudayaan. Tiga dari kebutuhan McClelland ialah ialah 1) kebutuhan akan prestasi (need of achievement) disingkat n Ach ialah dorongan dari dalam diri untuk menguasai segala tantangan dan hambatan dalam upaya mencapai tujuan. 2) kebutuhan akan afiliasi (need of affiliation) disingkat n Aff, ialah dorongan untuk berhubungan dengan orang lain atau dorongan untuk memiliki sahabat sebanyak-banyaknya. Dan 3) kebutuhan akan kekuasaan (need of power) disingkat n pow. Ialah dorongna untuk mempengaruhi orang lain agar tunduk kepada kehendaknya.[7]  

      

c.       Teori Proses (process theories) menjelaskan bagaimana perilaku dimulai dan dilaksanakan. Macam-macam teori ini yaitu teori harapan, pembentukan perilaku, Porter-lawler, dan teori keadilan.  

1.      Toeri ekspektasi dari Lewis dan Vroom. Teori ekspektasi (harapan) dikembangkan oleh Lewis dan diterapkan oleh Vroom secara khusus dalam praktik memotivasi. Teori ekspektasi ini mempunyai asumsi 1) manusia biasanya meletakkan nilai kepada sesuatu yang diharapkan dari karyanya. 2) suatu usaha untuk menjelaskan motivasi yang terdapat pada seseorang selain harus mepertimbangkan  hasil yang dicapai, ia juga mempertimbangkan keyakinan orang tersebut bahwa yang dikerjakan memberikan sumbangan terhadap tercapainya tujuan yang diharapkannya.

2.      Teori perilaku Skinner. Teori pembentukan perilaku menurut yang dikemukakan Skinner (1974) menyatakan bahwa yang mempengaruhi dan membentuk perilaku kerja disebut pembentukan perilaku (operant conditioning) atau disebut juga behavior modification, positive reinforcement, dan Skinnerian conditioning. Pendekatan ini didasarkan pada hukum pengaruh (law effect) yang menyatakan bahwa perilaku yang diikuti dengan konsekuensi pemuasan cenderung diulang, sedangkan perilaku yang dikuti konsekuensi hukuman cenderung tidak diulang. Jadi, perilaku individu dimasa mendatang dapat diramalkan atau dapat di pelajari.

3.      Teori Porter-Lawler. Teori Porter – Lawrer adalah teori pengharapan dari motivasi dengn orientasi masa depan dan menekankan antisipasi tanggapan-tanggapan  atau hasil-hasil. Para manajer terutama tergantung pada penghargaan yang akan datang bukan pegalaman masa lampau.

4.      Teori keadilan.  Teori keadilan menyatakan bahwa faktor keadilan/kewajaran yang mempengaruhi system pengupahan yang mencakup tiga dimensi, yaitu dimensi internal, dimensi ekstenal, dan dimensi individual. Dimensi internal berarti setiap jabatan/posisi dan pekerjaan individu dihargai oleh organisasi/perusahaan dengan perbandingan yang rasional, dari yang terendah sampai yang tertinggi. Dimensi eksternal berarti pengupahan dilakukan dengan memperhatikan nilai pasar tenaga kerja diluar organisasi/perusahan yang mampu bersaing dengan pengupahan yang diberikan oleh organisasi/perusahan lain yang sejenis. Dimensi individual berate kewajaran/keadilan yang dirasakan oleh setiap individu dengan individu lainnya.[8]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

Dari penjabaran di atas dapat ditarik kesimpulan, bahwa motivasi adalah dorongan (drive) untuk memuaskan satu kehendak (want) untuk mencapai suatu hasil; kepuasan (satisfaction) terjadi apabila hasilnya telah tercapai. Dan motivasi sangat penting bagi manajer ungtuk meningkatkan kinerja (performance) bawahannya karena kinerja tergantung dari motivasi, kemapuan, dan lingkungannya. Rumusannya adalah Kinerja (K) = fungsi dari motivasi (m), kemampuan (k). dan lingkungan (l) atau K= fm,k,l.

Dan dengan menjadi seorang motivator, kita dapat memperoleh keuntungan-keuntungan seperti kerja sama tim, jiwa kepemimpinan dan motivasi diri yang lebih kuat. Seseorang yang memberikan motivasi kepada teman-teman, kerabat, rekan kerja membuat dunia ini akan menjadi tempat hidup yang lebih baik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Tunggal,  Amin Widjaja., “suatu pengantar manajemen” Jakarta: PT Rineka Cipta, 1993

Usman,  Husain., “manajemen” Jakarta: PT. Bumu Aksara, 2006

Kamus umum bahasa Indonesia.

http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2138525-macam-macam-motivasi/

http://www.google.com/modelmotivasiSDM

 

 

 

 

 


[1]  Husain Usman, “manajemen” (Jakarta: PT. Bumu Aksara, 2006,) hlm.  222

[2]  Kamus umum bahasa Indonesia.

[5]  http://www.google.com/modelmotivasiSDM diakses tgl 10-04-2011

[6]  Amin Widjaja Tunggal, “suatu pengantar manajemen” (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1993,) hlm. 293

[7]  Ibid.,hlm. 295-297

[8]  Husain Usman, op. cit., hlm. 238-240

SEJARAH LAPTOP

•Januari 7, 2010 • 1 Komentar

SEJARAH  LAPTOP

Pada tahun 1970an Alan Kay dari Xerox Palo Alto Research Center memiliki suatu visi untuk sebuah komputer jinjing yang tudak memerlukan kabel, seukuran buku catatan. Ia menamakannya Dynabook. Dynabook milik Kay ini di ciptakan dengan kemampuan network wireless. Dan hal ini mulai menngerakkan roda perkembangan sebuah komputer jinjing yang sebenarnya seperti sekarang ini.

Di Era tahun 1979, William Mogrgidge, dari korporasi  Gird System Menciptakan komputer jinjing yang pertama: The Gird Compass Computer 1109, memiliki 340 kilobyte memory. Sebuah kotak die-cast magnesium dan sebuah layar lipat electrominescent. Nasa membeli banyak darinya pada kisaran $800 perbiji, untuk di gunakan pda program ruang angkasa.

Pada tahun 1983 Gavilan Computer memproduksi sebuah Laptop yang bekerja dengan baik sebaik MS-DOS pada processor 8088, di produksi dengan 64k RAM, dapat di Up-grade ke 128k. Dengan berat sekitar 9 pounds, memiliki touchpad/mouse di depan sebelah atas keyboard.

Pada tahun 1984 Appel memperkenalkan Appel model Iic. Appel IIc adalah sebuah notebook seukuran komputer, akan tetapi bukan Laptop sebenarnya, memiliki mikroprosessor 65C02, memory 128 kilobytes dan floppy drives 5.25 inch internal, dua post serial, port mouse, modem card, power suply external, dan dapat di lipat. Komputer itu sendiri memilki berat 10 sampai 12 lb (5kg), akan tetapi monitornya sedikit lebih berat. Appel Iic memiliki monitor monochrome 9-inci dan LCD panel optional. Kombinasi antara komputer/panel LCD telah menjadikannya sebuah komputer portable. Appel IIc di pasarkan ke rumah dan bidang pendidikan, dan meraup sukses untuk sekitar lima tahun.

Perusahan lain seperti IBM, memperkenalkan komputer jinjing linnya pada tahun berikutnya. Komputer jinjing yang pertama di lepas secara komersial adalah IBM PC, tidak seperti Appel IIc, PC convertible adalah benar-benar sebuah komputer Laptop.seperti komputer Gavilan di perkenalkan pada tahun 1986. Dengan fitur: Microprosesor 8088, Memory 256k, dua floppy drive 3.5-inch (8.9 cm), sebuah layar LCD Paralel dan Port serial printer, ruang untuk memory internal, sebuah software dasar mencakup pengolahan kata, penanggalan kalender, buku alamat, dan soft kalkulator. Dengan berat yang kokoh 12 lbs (5.4 kg). PC ini di jual pada kisaran $3500. Menjadi komputer jinjing yang pertama dengan desain clamshell seperti Laptop sekarang. Sukses dari PC yang dapat di ubah menjadi katalisator untuk para pesaing seperti Compaq dan Toshiba merubah desain Clamshell ini, menjadi komputer jinjing mereka sendiri. Dan mulai jaman dari sebuah komputer Laptop.

SAINS DAN TEKNOLOGI

•Januari 7, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

SAINS DAN TEKNOLOGI  DALAM EVALUASI KEMAMPUAN

Berbicara mengenai sains dan teknologi, tentu saja tidak bisa di lepaskan dari konteks  sosio-budaya yang melingkupi kelahirannya. Semua kajian keilmuan modern, ilmu sosial atau alam, berasal dari Amerika Utara dan Eropa Barat pada awal  perkembangannya. Ilmu pengetahuan modern pada awal kelahirannya, menjadi bersifat “euro-sentris”.

Menjadi seperti itu karena pengaruh para filosof Eropa modern seperti Rene Descrates. Sangat dominan pada seluruh bangunan fisiknya isaac newton dan kimianya lavosier. Keadaan menjadi seperti ini, dimana Amerika Utara dan Eropa Barat memegang Hegemoni atas perkembangan sains dan teknologi (sainstek), karena di bagian dunia yang lain seperti china , timur tengah dan India, mengalami Stagnasi besar-besaran di bidang sosial kebudayaan. Sebetulnya, kebudayaan China, Timur Tengah dan India pada waktu itu sempat lebih maju dari barat. Namun karena serangkaian perang saudara dan perebutan kekuasaan atau coup detat di china, timur tengah dan India akhirnya negara Barat mampu menyalip mereka.

Ilmu alam dan Ilmu Sosial berasal dari satu Induk, yaitu filsafat. Sebagai mtters scientarum, filsafatlah yang melahirkan mereka dan menjadikan mereka berdua menjadi seperti sekarang ini. Filsafat selalu mencari kebenaran. Sementara anak-anaknya, yaitu Ilmu sosial dan ilmu Alam, mewarisi tugas dari ibunya untuk juga mencari kebenaran. Bila Ilmu Sosial dan Ilmu Alam di pertentangkan, berarti sama saja dengan mempertentangkan kebenaran

CIVIC EDUCATION

•Januari 7, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

“MASYARAKAT MADANI”

Istilah masyarakat Madani dalam bahasa Inggris di kenal dengan istilah civil society pertama kali di kemukakan oleh cicero dalam filsafat politiknya dengan istilah societies civilis yang identik dengan Negara. Dalam perkembangannya istilah civil society di pahami sebagai organisasi-organisasi masyarakat yang utama bercirikan ke sukarelaan dan kemandirian yang tinggi berhadapan dengan negara serta keterikatan dengan nilai-nilai atau norma hukum yang di patuhi oleh masyarakat.

Bangsa Indonesia berusaha untuk mencari bentuk masyarakat madani yang pada dasarnya adalah masyarakat sipil yang demokrasi dan agamis/religius. Dalam kaitannya pembentukan masyarakat madani di indonesia, maka warga negara di Indonesia, maka warga negara di Indonesia perlu di kembangkan untuk menjadi warga negara yang cerdas, demokratis dan religius dengan bercirikan imtak, kritis argumentatif, dan kreatif, berfikir dan berperasaan yang jernih sesuai aturan, menerima semangat bhineka tunggal ika, berorganisasi secara sadar dan bertanggung jawab, memilih calon pemimpin jujur dan adil, menyikapi media massa secara kritis dan obyektif, berani tampil dan kemsyarakatan secara profesionalis, berani dan mampu menjadi saksi, memilih pengertian ke sejagatan, mampu dan mau silih asah-asih-asuh antara sejawat, mamahami daerah Indonesia saat ini, mengenal cita-cita Indonesia di masa mendatang dan sebagainya.

Karakteristik masyarakat Madani ialah :

  1. Free Public sphere ( ruang publik yang bebas )
  2. Demokratisasi
  3. Toleransi
  4. Pluralisme
  5. Keadilan sosial (social justice)
  6. Partisipasi social
  7. Supremasi Hukum